Background

Background

Silahkan klik beberapa gambar di bawah ini

  • image1
  • image2
  • image3
  • image4
  • image2
  • image1
  • image4
  • image3
KERETA KENCANA
( Les Chaises )


Karya : Eugene Ionesco
Terjemahan : W.S. Rendra
Pusat Pengembangan dan Penataran Guru Kesenian Yogyakarta
2004


( WAKTU LAYAR DIBUKA PANGGUNG GELAP DAN SUNYI, KEMUDIAN TERDENGAR SUARA)

………………… Wahai, Wahai……………….. Dengarlah engkau dua orang tua yang selalu bergandengan, dan bercinta, sementara siang dan malam berkejaran dua abad lamanya.
Wahai, wahai dengarlah !
Aku memanggilmu. Datanglah berdua bagai dua ekor burung dara. Akan kukirimkan kereta kencana untuk menyambut engkau berdua. Bila bulan telah luput dari mata angin, musim gugur menampari pepohonan dan daun-daun yang rebah berpusingan.
Wahai, wahai !
Di tengah malam di hari ini akan kukirimkan kereta kencanaa untuk menyambut engkau berdua. Kereta kencana, 10 kuda 1 warna.

( EMPAT KETUKAN, SETELAH ITU NENEK MASUK DENGAN LILIN MENYALA. DUHAI GUGUPNYA)

NENEK : Henry, engkaukah itu ?
Henry.. ah. dari mana engkau sayang ?


( NENEK BERJALAN DENGAN LILIN MENYALA, IA DUDUK DI KURSI BAGUS TANPA SANDARAN, DAN MEMBISU )

NENEK : (MELETAKKAN LILIN KE MEJA ) Henry, dari mana engkau ? Kenapa diam saja ? saya mencarimu, ada apa dengan engkau ? Ayolah jangan diam saja ? Henry apakah kau tadi yang bersuara keras ?

KAKEK : ( MENGGELENGKAN KEPALA BAGAI TERMENUNG )

NENEK : Sakitkah engkau ? Ayolah jangan diam saja. Nyalakan lampu listriknya. Di kamar ini dan di kamar tidur kita saja yang ada lampu listriknya, dikamar lain sudah rusak semuanya. Oh Tuhan……. Alangkah bobroknya rumah kita ini. Baiklah. Ayolah nyalakan lampu listriknya Henry.

(KAKEK TETAP MEMBATU, NENEK LALU PERGI MENYALAKAN LAMPU. LAMPU MENYALA HIJAU, NENEK TERKEJUT )

NENEK : Kenapa sayang, kenapa? (MENGAMBIL LILIN KAKEK, MENARUHNYA KE SEBELAH LILIN NENEK, LALU MEMADAMKAN KEDUA LILIN TADI) Apakah kau sakit ? Oh, jangan membingungkan saya, apa kau tadi berteriak keras ?

KAKEK : ( MENGGELENGKAN KEPALA )

NENEK : Saya mendengarkan suara.

KAKEK : Saya juga.

NENEK : Kau juga ? Suara apa ?

KAKEK : Suara yang dulu lagi. Aku mendengar suara yang dulu lagi.

NENEK : Aku juga mendengarnya.

KAKEK : Suara yang berulang kali datang.

NENEK : Ya ! Suara yang dulu.

KAKEK : Angin bertiup keras.

NENEK : Ya !

KAKEK : Lalu ketukan pintu.

NENEK : Ya !

KAKEK : Tapi kali ini ada tambahannya.

NENEK : ?????

KAKEK : Suara orang berkata. ( DIAM SEJENAK)

NENEK : Jadi kau juga mendengarnya ? Cobalah kau katakan bagaimana mendengar kata itu.

KAKEK : Kita berdua mendapat panggilan.

NENEK : Jadi kau pikir panggilan itu untuk kita berdua ?

KAKEK : Dau orang tua yang dua abad usianya, siap lagi kalau bukan kita ? Baru dua hari yang lalu aku merayakan ulang tahun yang ke 200.

NENEK : Coba menurut kau bagaimana kau mendengar suara itu ?

KAKEK : Tengah malam nanti, apabila angin mendayu dan bulan luput dari mata. Akan datang sebuah kereta kencana untuk menyambut kita berdua. Waktu itu aku sedang mencari-cari buku harianku di kamar perpustakaan, lalu kudengar suara itu isinya kurang lebih begitu, tapi aku tak tahu bagaimana persisnya.

NENEK : Aku tahu, aku juga mendengarnya. Engkau dua orang tua yang selalu bergandengan tangan dan bercinta, sementara siang dan malam berkejaran dua abad lamanya.
Wahaiwahai. Dengarlah aku memanggilmu, datanglah berdua bagai dua ekor burung dara. Akan kukirimkan kereta kencana untuk menjemput kau berdua. Bila bulan telah luput dari mata angin. Musim gugur menampari pepohonan dan daun-daunan yang berpusing.
Wahai.wahai.. di tengah malam di hari ini akan kukirimkan kereta kencana. Kereta kencana 10 kuda 1 warna.

KAKEK : Jadi kau dengar suaranya ? Sementara mendengar itu semua.

NENEK : Jantungku berkeridutan, penyakit yang lama kembali lagi.

KAKEK : Aku juga, penyakitku kembali lagi, tubuhku berkeringat dan nafasku sesak.

NENEK : Tahukah kau artinya semua ini ?

KAKEK : Ya ! Malam ini kita akan mati bersama.

(HENING, KAKEK MELANGKAH KE JENDELA DAN MEMBUKANYA)

NENEK : Kenapa kau buka jendela itu ? Hawa di luar sangat dingin.

KAKEK : Malam musim gugur.

NENEK : Kau nanti masuk angin.

KAKEK : Bintang bertebaran dan bulan nampak pucat, sebentar lagi akan datang angin-angin itu menbawa mendung, dan mendung itu akan membawa bulan luput dari pandang mata.

NENEK : Tutuplah jendela itu.

( KAKEK MENUTUP JENDELA, MENUJU KURSI PIANO, LALU DUDUK )

KAKEK : Aku merasa kosong.

NENEK : Angin buruk gampang membuatmu sakit, sayang.

KAKEK : Kita terlalu hidup, dan terlalu lama memeras tenaga untuk mengisi umur kita yang panjang ini. Berapa kali sajakah kita mengharap mati ? Tiap datang ketukan pintu, kita berpikir, inikah saatnya ? Tapi kita selalu salah duga.

NENEK : Tapi kali ini kita tidak akan salah duga.

KAKEK : Pasti, pasti tidak akan salah lagi. Setelah akan datang sungguh saat ini, beginilah rasanya.

NENEK : Apakah kau takut ?

KAKEK : Tak tahu, dan kau ?

NENEK : Tak tahu. Tapi sedihkah kau ?

KAKEK : Tidak. Sedihkah kau ?

NENEK : Saya kira tidak, aku tak tahu.

KAKEK : Tak tahu, itulah jawaban yang paling tepat. Kita balon yang berisi hawa. Tak takut, tak sedih, Cuma hawa yang hampa.

NENEK : Sebentar lagi takkan hampa-hampa juga. Kita sekali bisa mengisi hidup ini.

KAKEK : Aku merasa jemu dan lesu.

NENEK : Apa artinya kebudayaan kalau manusia tidak bisa menghibur dirinya.

KAKEK : Aku mau membuka jendela.

NENEK : Jangan, jangan sayang. Apakah kau akan bertingkah nakal lagi Henry ? Ah, kau terlalu banyak aku manjakan manis.

KAKEK : Aku tidak bertingkah, aku tidak berbuat apa-apa, hidupku sudah kosong.

NENEK : Jiwa dan akal lebih luas dari kejemuan. Kebudayaan kita harus menag dari kejemuan. Senyumlah sayang, senyum disaat seperti ini adalah kebudayaan.
KAKEK : Aku tidak mau tersenyum.
NENEK : Menyanyi ?

KAKEK : Tidak !

NENEK : Baiklah engkau seorang badut. (LAKUNYA SEPERTI BERKATA KEPADA ANAK KECIL)

KAKEK : Aku senang jadi badut. Ingatkah kau ketika aku masih mahasiswa? Aku pernah jadi juara lomba lawak.

NENEK : Tentu saja, engkau badut yang manis.

KAKEK : Manisku, aku sekarang badut.

NENEK : Badut yang pintar, bukan ?

KAKEK : Badut yang manja.

NENEK : Boleh, sekarang badut yang manja ingin apa ?

KAKEK : Saya ingin kau jadi layang-layang.

NENEK : Ini layang-layang (MENGEMBANGKAN TANGANNYA)

KAKEK : Uluuuuuur, tariiiiiiiiiiiiik, uluuuuuuuuuuur, tarik………….. uluuuuuuur-uluuuuuuuur…………. Ah putus.

(NENEK JATUH KE LANTAI, KAKEK TERTAWA SENANG )

NENEK : ( TERENGAH-ENGAH ) Wah, badutnya nakal. (TAPI NAMPAK NENEK SANGAT SENANG )

KAKEK : Hihihihihihihihihihi, lihatlah aku sendiri ketawa, kaulah badut dunia penghibur orang lain dan aku sendiri.

NENEK : (BERDIRI) Engkau tertawa dan mukamu segar seperti buah apel. Engkau mengalahkan kesempitan dan kekosonganmu, hiburan bukanlah pesta yang mahal. Hiburan sejati adalah kebijaksanaan (BERTEPUK TANGAN) Badutku, hore………. Hore……. (KAKEK MEMBUNGKUK HORMAT) Badut adalah raja kebudayaan (APPLAUSE DARI NENEK)

NENEK : Aku lelah sayang, maukah kau berbuat sesuatu untukku ?

KAKEK : Aku selalu bersedia sayang, Abunawas selalu bersedia.

NENEK : Tidak, engkau tidak lagi menjadi badut. Sekarang ganti jadilah Haodini main sulapan untuk saya.

KAKEK : Aku tidak mau. Tanganku yang tua tidak tangkas lagi main sulapan.

NENEK : Kalau begitu jadilah pagi hari.

KAKEK : Pagi hari manisku ?

NENEK : Ya ! Pagi hari.

KAKEK : Baiklah ini pagi hari. (MENGGAMBARKAN PAGI HARI DENGAN GERAK TANGAN) Pagi hari manisku.
NENEK : Terima kasih, hebat sekali, engkau sangat pandai, engkau mestinya jadi jendral, kalau engkau punya kemauan mestinya kau sudah jadi jendral sekarang.

KAKEK : Aku bukanlah jendral, aku hanya seorang profesor yang dilupakan.

NENEK : Tapi dulu kau pernah bergerilya, berjuang untuk Perancis. Engkaulah adalah pahlawan Perancis, putra Jeanne darc. Pahlawanku, apakah kau mencintai aku ?
KAKEK : Aku mencintaimu dengan semangat musim semi yang abadi.

NENEK : Cantikkah aku pahlawanku.

KAKEK : Engkau gilang-gemilang bagai putri Zeba !

NENEK : Darahku berdeburan, pahlawanku. Dengan hormat berbuat sesuatu untukku.

KAKEK : Ciuman-ciuman sudah terlalu badani, tapi…………. (MENGHAMPIRI MEJA) Akan kusajikan minuman untuk membujuk darahmu Zeba. Tuan putrid berkenan minum apa ? (ASOSIASI SEOLAH-OLAH ADA BENDA-BENDA ITU) Anggur dari Malaga, Wysky Scotlandia, Baounnet ? Martini ? Atau Champagne dari Canada ?

NENEK : (TERSENYUM)

KAKEK : Aha,…… atau teh dari Timur ?

NENEK : Terima kasih, ya.

KAKEK : (BERBUAT SEOLAH-OLAH MELAYANI TEH) Aha ? Inilah cawan dari Tiongkok, hasil karya tangan berbakat dari lembah Yang Tse Kiang (MENGAMBIL CANGKIR). Cangkir dan cawan berhias naga. Naga-naga ini berwarna hijau, karena disanapun hijau bagai zamrut. (MENUANG TEH). Dan inilah the dari Assam. Tuan putri ingin gula berapa ?

NENEK : Dua !

KAKEK : (MEMASUKKAN GULA MENGADUKNYA DAN MEMBERIKANNYA KEPADA NENEK). Teh dari timur untuk putri Zeba.

NENEK : Terima kasih pahlawanku, (MINUM TEH). Lezat sekali ! Ah (BANGKIT MENUJU KURSI GOYANG) Apakah sang pahlawan menghendaki kue-kue dan panganan ? dan silahkan panganan ini. Ini namanya kue Harapan Senja Kala Meskipun sebenarnya tidak lebih dari kue Cherio ditambah vanili telor dan irisan buah apel. (MENGAMBIL CAWAN) Ini juga bikinan Perancis tanah air kita. (MENGAMBIL GARPU DAN MENYUGUHKANNYA KEPADA KAKEK) Ini buat putra dari Perancis, pahlawan dari Orleance.

KAKEK : Terima kasih putri Zeba (MAKAN KUE)

NENEK : Enak ?

KAKEK : Lezat sekali.

NENEK : Dulu kau pernah gemar makan kue Cherio, tapi kemudian kegemaranmu selalu berubah-ubah.

KAKEK : Kau pernah membuat bistik dari Jerman yang lezat untuk saya.

NENEK : Ah iya ! Waktu itu kita gemar piknik dan main tenis, kenapa kita jadi tua.

KAKEK : Karena bumi berputar, berputar……………….

NENEK : Kau pintar sekali, mestinya kau jadi jendral.

KAKEK : (TIBA-TIBA DENGAN LEMAS DUDUK DI LANTAI). Aku bukan jendral. Aku hanyalah profesor yang dilupakan, aku sampah di buang.

NENEK : Jangan begitu ! Ayolah ! Bangkit dari lantai.

KAKEK : Aku orang hina, tempatku di tanah.

NENEK : Tidak. yang di tanah cuma cacing, pahlawanku selalu berdiri di atas kedua kaki. Engkau pahlawan Perancis, engkau pernah berjuang dan berperang untuk Perancis, engkau pernah mendapatkan Legion dhonour, engkau harus berdiri.

KAKEK : Hidupku hampa dan sia-sia.

NENEK : Putra Perancis berdirilah !
KAKEK : Aku orang terkutuk, aku tak punya anak, hidupku 200 tahun dan tak punya anak.

NENEK : (TERPAKU). Dengan hormat, saya minta………… (MULAI MENANGIS) dengan hormat sayang, dengan hormat manisku. Oh ! Kita tak boleh menangis. Bulan akan luput dari mata, kereta kencan akan tiba, kita tak boleh menangis, kita punya kebudayaan, kita tak boleh menangis (TIBA-TIBA) Henryyyyy mari, inilah bayi kita menangis Henry.

KAKEK : (MENDEKAT, NENEK MULAI BERSENANDUNG LAGU CRADLE SONG) Siapa nama anak kita ?

NENEK : Jean Valjan (DIBACA ZYONG VALZYONG).

KAKEK : Jean Valjan dari Les Misserable ? Jadi ia laki-laki ?

NENEK : Ya, laki-laki. Ah, bayi kadang-kadang membingungkan apakah ia laki-laki atau perempuan. Lihatl;ah sayang, mulutnya seperti mulutmu.

KAKEK : Hidungnya seperti hidungmu.

NENEK : Cobalah dukung dia.

KAKEK : Tak mau.

KAKEK : Ayolah Henry. (KAKEK MENDUKUNG TAPI KELIRU) Ya Tuhan jangna begitu (MEREBUT BAYI DARI KAKEK). La, laaaaaaaala lililililili, lulululululu, bayi harus diperlakukan secara halus, ia sangat lemah seperti kupu-kupu yang baru ke luar dari kepompongnya, lililililili…… lulululululu……

KAKEK : Oh,.. oh,……. Oh,…….!

NENEK : Kenapa ?

KAKEK : Bayinya kencing !

NENEK : Oh, oh, (RIBUT) Bayi nakal (MELETAKKAN BAYINYA DIBUAIAN) Ia nakal seperti papanya (MENGANTIKAN POPOK BAYI). Kalau ia sudah besar ia akan menjadi Jendral. Henry, cobalah kau sekarang menimangnya.

KAKEK : Aku belum bisa, beri dia makan dulu.

NENEK : Lili………li……..lulululu…….lu

KAKEK : Lalalalala..lalalala…….laaaaaaaaaalala………

NENEK : Anakku sayang, bungaku sayang, bintangku sayang, boboklah. Boboklah, boboklah supaya lekas besar.

KAKEK : (MEMAINKAN BIBIRNYA). Brrrrrrrrr, Brrrrrrrrrrrrrrr, brrrrrrrr, papa pinta ya! Papa gagah ya! Papa lucu ya!

NENEK : Kau menimang dirimu sendiri, bukan bayinya.

KAKEK : (TETAP MEMAINKAN BIBIRNYA). Brrrrrrrrrr, brrrrrrrrrrr (TIBA-TIBA MENINGGALKAN BUAIAN). Ah, aku sudah bosan bayinya nangis saja.

NENEK : (PERGI DULU KE KURSI BAGUS). Sekarang kita main halma ?
KAKEK : Malas.

NENEK : Sekarang baiklah, kau sekarang mendongeng saja.

KAKEK : Mendongeng apa ? Serigala dengan anggur ?

NENEK : Tidak, sambungan yang lalu.

KAKEK : Baiklah kalau belum bosan……… maka setelah pengembaraan yang lama itu, sampailah kita kesebuah gerbang besi yang besar, kita telah basah kuyub. Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan kehujanan, kita menggigil dan gigi gemeretukkan. Ini terjadi seratus dua puluh lima tahun yang lalu, ingatkah kau waktu kita minta dibukakan pintu, tapi mereka tak mau membukakannya. Dibalik gerbang itu ada padang rumput, dan ada jalan berkerikil yang menuju ke sebuah puri. Maka puri itu di kelilingi oleh kebun dan taman, dan taman itu penuh dengan bunga anggrek dan gladiol……. Kita tak diperkenankan masuk, kita harus mengembara lagi, 125 tahun lagi. Kita tiduri kota, seluruh ibu kota di dunia. New York, New Delhi, Angkara, Peking, Madrid, Jakarta……….

NENEK : Kota yang indah bukan ?

KAKEK : Lambang kebudayaan.

NENEK : Tapi London telah hancur…………

KAKEK : London hancur, Madrid hancur, Moskow jadi padang belantara, di Berlin tumbuh semak belukar lebat, dan tak terduga New York telah menjadi rawa.

NENEK : Dan Paris, manisku ? Paris yang dulu kau bela dengan senjata itu ?

KAKEK : Dan Paris kota yang tercinta itu telah hancur, kota yang jaya itu telah lebur manisku. Batu bata di atas batu bata telah punah.Eifel terjungkir balik, Arc de Triumph hilang dengan jejaknya dan Noterdam dun Paris telah terlibat oleh sangkala, hanya tinggal sebuah lagu di kota itu.

NENEK : Sebuah lagu ?

KAKEK : Sebuah lagu buaian, sebuah perumpamaan.

NENEK : Kota yang malang

KAKEK : Kota tercinta yang malang.

(PINTU DIKETUK KERAS-KERAS, NENEK DAN KAKEK TERKEJUT)

NENEK : Ada tamu.

KAKEK : Apakah bulan sudah luput dari pandangan mata ?

(KETUKAN PINTU)

NENEK : Bukalah pintu.

KAKEK : Apakah itu betul-betul tamu?

(KETUKAN PINTU)

NENEK : Putra Perancis, bukalah pintu.

(KAKEK MEMBUKA PINTU, TERKEJUT)

KAKEK : Perdana Menteri !

NENEK : Perdana Menteri ! (MENYAMBUT DENGAN GEMBIRA)

KAKEK : Ya, Perdana Menteri. Silahkan masuk yang mulia (ABSTRAK. KAKEK MEMBETULKAN PAKAIANYA, MEMBAWA TAMUNYA KE RUANG TENGAH ) Yang mulya inilah istri saya.

NENEK : Yang mulya.

KAKEK : Maafkanlah Yang mulya, harap topinya di bawa saja, di sini tidak ada kapstok, mantelnya juga harap dibawa saja.

NENEK : Maafkanlah keadaan rumah ini.

KAKEK : Semuanya sudah dimakan oleh sangkala. Rumah terlalu besar, orangnya terlalu kecil, tambah perabot rumah sudah punah. Tinggal kami berdua saja yang tinggal di rumah, sebagai dua ekor tikus yang pengap.

NENEK : Matahari menjahui kami.

KAKEK : Kami ini tikus yang tidak dikehendaki orang lagi.

NENEK : Silahkan duduk (MENUNJUK KE KURSI BAGUS). Bagaimana ?

KAKEK : Oh ? Paduka Perdana Menteri ingin duduk di kursi goyang. Silahkan Yang mulya, ya silahkan. (BERHENTI SEJENAK). Kami berdua mengucapkan terima kasih atas kunjungan paduka, yang berarti kehormatan bagi kami.

NENEK : Kunjungan paduka membuat kami bangga dan mendapatkan diri kami.

KAKEK : Oh ya, betul ! Sebenarnya dulu para perdana menteri suka mengunjungi kami. Ya perdana menteri Inggris, India, dan juga Khaisar Jepang, presiden America, Presiden Philipina dan Sekretaris PBB pernah datang mengunjungi kami.
Apa ? Oh ya, mereka datang meminta nasehat saya, mengenai urusan pemerinatahan. Pengadilan, Liberalisme, ataupun perlucutan senjata (MENJELASKAN).
Bagaimana ? Tidak, tidak…… saya tidak memberi nasehat, tak ada gunanya……… saya hanya memberi teka-teki saja.

NENEK : Tetapi sekarang dunia telah melupakan (SEJENAK). Ia telah ditindas roda jaman.

KAKEK : Begitu Paduka…………. Oh ya, terima kasih, saya sangat bersuka bahwa paduka tidak melupakan saya………..
Apa ?……. Oooo ya, ………. Astaga, jadi paduka pernah jadi murid saya ? Pada waktu saya di Sorbonne ? Tahun berapa ? .Oh ! Dan mata kuliah apa yang paduka ambil pada waktu itu? Filsafat, apa kimia, apa sejarah ? Oh ekonomi……. Ya saya pernah mengajar semua itu, dan juga enthnologi, dan ilmu pasti. Ya……… saya pernah juga mengajar di fakultas kedokteran, saya menjadi dokter bedah ketika umur saya 32 tahun (TERTAWA).
Tidak, tidak……… saya tidak pernah jadi mantri. Saya hanya punya satu muka, sebab itu saya tidak bisa jadi politikus. Tidak, saya tidak berpendapat bahwa politikus punya dua muka, tapi saya berpendapat bahwa politikus punya seribu muka.

NENEK : Henry, jagalah lidahmu !

KAKEK : (KEPADA YANG MULIA) Bagaimana ? Ya, ya.. Kalau paduka marah boleh saja. Oh…….begitu, syukurlah kalau paduka tidak marah. Paduka seorang yang baik, memang kalau begitu paduka tidak suka bolos kuliah, bukan ? (TERSENYUM). Paduka memang seorang yang baik, dan juga paduka tidak pernah melupakan gurunya. Itu bagus, baiklah…….. sekarang harap diberi tahu, apakah perlunya paduka berkunjung kemari ? (BERHENTI SEJENAK). Apakah sesuatu yang bisa saya tolong…… Paduka telah tahu hal itu ? …….. Apa ? Ya, ya kami tidak akan mengadakan pesta perpisahan…….. Apa ? Muridku yang lain akan datang ? Wah ! Manisku bagaimana ini, sebentar lagi akan banyak tamu datang…………. Mereka ingin mengadakan pertemuan perpisahan dengan kita.

NENEK : Ya, ya……. Tapi rumah kita sudah bobrok, tak ada perabotan kecuali yang ada ini. (KEPADA YANG MULIA) bagaiman Yang mulia ?……….. Ya, betul……… mereka akan berdiri, tetapi saya malu……..dan ruang yang lain lebih buruk lagi.

(PINTU DIKETUK DENGAN KERAS DAN BERULANGKALI)

KAKEK : Mereka datang.

NENEK : ?????? Mereka datang, buka pintu !

KAKEK : (MEMBUKA PINTU DAN TAK ADA YANG NAMPAK)
(NENEK DAN KAKEK SIBUK DENGAN PARA TAMU)
Selamat datang Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya (ORANG-ORANG MENGAJAK BERSALAMAN). Nah itu istriku (SEOLAH-OLAH MENGAJAK TAMU UNTUK BERSALAMAN, NELAYANI PARA TAMU). Selamat datang, selamat malam, sayang atap rumah ini sudah hancur, perabot sudah habis. (ORANG TERUS DATANG DAN MENYALAMI, DAN ADA BEBERAPA ANAK KECIL). Selamat datang Tuan-tuan, selamat datang Nyonya-nyonya, selamat datang manis, selamat datang sayang, selamat datang mensinyur kardinal, selamat datang senator, selamat datang jendral, selamat datang kapten……… Ahaaaaa, inilah bintang film Perancis yang paling cantik, selamat datang. (SELAMA INI NENEK MENYAMBUNG). Selamat datang Mastro, selamat datang, Ayooooo silahkan duduk, nyonya yang dekat kursi itu, silahkan duduk. (MEREKA MEMAKSA KEDUANYA DUDUK). Apa saya sendiri………. (KEPADA NENEK) Ah, bagaimana ini ? Tidak saya berdiri saja. Wah, wah,…….. Baiklah. (MEREKA DIDORONG DUDUK DI KURSI) Bagus,bagus…….

NENEK : Kita tidak pantas duduk Henry, biarlah mensinyur saja.

KAKEK : Ya, jendral saja.

NENEK : Ya, baiklah kalau kami dipaksa ! Apa boleh buat.

KAKEK : Oh ya, saya lupa. Tuan-tuan, dan nyonya-nyonya saya perkenalkan tamu saya yang pertama ialah………. Paduka……. Hei, di mana beliau tadi ? Di mana ? Oh ! Itu dia ! Wah, wah. Jadi sudah kenal ? Maafkanlah orang tua gampang lupa.

NENEK : Henry, ucapkanlah pidato selamat datang. Ya, ya…….. ia akan pidato nanti.

KAKEK : Ah, tidak usah saya……….

NENEK : Henry. Ingat etika.

KAKEK : Baiklah……… (SEGAN-SEGAN BERDIRI DAN PIDATO DENGAN LANCARNYA). Yang mulya mensinyur kardinal, para uskup, para guru, para maha guru, para jendral, para senator, tuan tukang kayu, tuan penjual kelontong, tuan tukang kebun, tuan tukang masak, anak-anak yang manis, dan ya semua saja hadirin yang saya sayangi.
Kami ucapkan selamat datang, saya tidak akan berpidato dengan panjang lebar, dan sukar, karena banyak anak-anak berada ditengah kita. Maka dari itu pembicaraan kita akan bersifat sepanjang umur saja. Sebentar lagi bulan akan luput dari mata, angin menderu dan jam menunjukan tengah malam. Lalu datanglah kereta kencana itu, saya berterima kasih bahwa para hadirin telah suka datang untuk mengucapkan kata perpisahan. Tuan-tuan , nyonya-nyonya………………… Apa ? Bagaimana …………. Anak-anakku ?………….. Ah saya tidak boleh memakai kata anakku, sebab ada para menteri, para kardinal……….. Bagaimana ? ………………. Ah, baiklah……….. Anak-anakku……………… (TIBA-TIBA MENANGIS).

NENEK : Kenapa sayang, kenapa ?

KAKEK : Lihatlah……………. Ini semua anak kita. Di saat ini setelah 170 tahun. Nanti akhirnya diperkenankan juga kita mempunyai anak sebanyak ini, merekalah bunga Perancis, ahli waris dari prinsip-prinsip perjuangan yang telah kubela dengan senjata, ahli waris dari lagu cinta yang abadi. Ahli waris yang menantang penindasan dan penjajahan…………….. Anak-anakku………. Bapak ingin berburu bersama putra-putranya, bapak ingin bermain catur bersama dengan putri-putrinya…………. Anak-anakku (MENANGIS DENGA HEBAT DAN KEHABISAN DAYA DAN TERTUNDUK).

NENEK : (MEMBELAI KAKEK) Henry sayang, pahlawanku sayang…………... diamlah, pada suatu saat saja………. Ketika langit di timur bersinar jingga, di atas air laut yang juga jingga, adalah seekor elang laut yang hendak terbang meninggalkan sarang. Ia mempunyai dua ekor anak, dan keduanya menanggis semuanya, mereka semuanya tidak suka ditinggalkan ibunya. Ibunya menerangkan, bahwa sebentar lagi akan lapar……….. kalau lapar perut jadi sakit, dan lemas. Sebab itu ibu harus pergi ke laut, di laut banyak ikan-ikan yang lezat denga sisik megkilat. Ibu akan menangkap ikan-ikan itu itu untuk sarapan pagi anak-anaknya………. Aanak-anakku berhentilah menangis ………… dan anak-anakkupun berhenti menangis………… (TANGIS KAKEK REDA)

(PINTU DIKETUK DENGAN KERAS)

NENEK : Ada tamu.

KAKEK : (BERDIRI) Siapa ? Buka pintu (PERINTAH)

(PINTU DIBUKA ORANG DAN NAMPAKNYA ORANG-ORANG RIBUT)

NENEK : Siapa yang datang? Siapa Kaisar?

KAKEK : Kaisar ?

NENEK : Apa di Perancis ada Kaisar ?

KAKEK : Minggir semua, minggir, (SEMUA MINGGIR DAN KAKEK MENUJU KE PINTU, IA BERHENTI, DAN KEMUDIAN JATUH KE LANTAI). Siapa tuan yangdatang melangkah dengan cahaya gilang-gemilang ? cahaya tuan menyilaukan mata, mata tuan bagaikan matahari tak kenal senja. Di depan tuan saya jatuh tak berdaya………………… Kaisar ? Bukan, …………… Kekaisaran dari bumi.
Kekaisaran dari kerajaan yang terang dan benar………….berlutut ………………. Semua berlutut ntuk kaisar (SEMUA BERLUTUT, KAKEK MEMPERSILAHKAN TAMUNYA).
Sri baginda, hamba tak pantas mendapat kunjungan paduka, tetapi berkata sepatah kata saja tentu akan menjadi bersih. Hamba harap diampunkan, sebab hamba terpaksa memasukkan baginda ke dunia dosa. Silahkan…………….. minggir, minggir Sri bagind akan duduk di kursi goyang. (SETELAH BAGINDA DUDUK KAKEK MENGANDENG NENEK MENGHADAP KAISAR). Baginda inilah istri hamba. Ayolah manisku, sri baginda mintakita berdiri (KEDUANYA BERDIRI BERGANDENGAN TANGAN). Kunjungan baginda berarti kehormatan bagi kami, lebih dari itu, suatu karunia. Ya, ya hamba sudah menduga arti kedatangan baginda………… ya seperti juga yang lain, memang hamba mengerti, kami telah menanti. Demikianlah………… bila bulan telah pudar………….. bila angin mendayu………… ya, bulan tengah malam pukul dua belas. Ya, hamba percaya percaya kereta itu pasti bagus, suatu kemulyaan. Tidak, kami tidak lagi berkisah, cahaya telah datang………… permohonan terakhir.

NENEK : Ya, ucapkan permohonan terakhir sayang.

KAKEK : Oh, apa yang kan aku ucapkan ? Sri baginda inilah permohonan kami yang terakhir.
Kaisar dari kerajaan benar dan terang, kami mohon ampun bagi yang mulya uskup, para jendral, para senator, para tukang kebun, para tukang kayu, para tukang masak, para anak-anak manusia, untuk istri yang tercinta, yang telah tua ini. Dan untuk seekor cacing tanah ialah hamba sendiri yang hina dina.

NENEK : Terima kasih baginda.

KAKEK : Terima kasih sri baginda.

NENEK : Kami mengerti.

KAKEK : Ya, kami mengerti dan siap

NENEK : Kami siap dan menanti.

KAKEK : Setiap detik

NENEK : (TIBA-TIBA)
Minggir, minggir sri baginda akan kembali, beri hormat dan minggir.

(ANGIN MASUK MENDERU. KAKEK DAN NENEK MEMEGANG PAKAIANNYA)

KAKEK : Angin.

NENEK : Angin yang menderu.

KAKEK : Minggir, minggir……………….
Saya mau mengantar sri baginda, beri aku jalan.
Minggir, hai………………………..
Mengapa kalian pergi bersama baginda ? Hai…………………

(HENING. MEREKA TELAH LENYAP SEMUA)

NENEK : Tutuplah pintu.

KAKEK : (TERHENTI DI PINTU) Langit mendung dan bulan lenyap dari mata.

NENEK : Dengan segenap kasih tutuplah pintu, manisku.

(KAKEK LALU MENUTUP PINTU, LALU PERGI KE KURSI GOYANG, NENEK KE KURSI PIANO)

NENEK : Apakah kau takut ?

KAKEK : Tidak, aku berdebar-debar.

NENEK : Perpisahan badan bukan berarti perpisahan jiwa.

KAKEK : Kita berdua tak akan dipisahkan.

NENEK : Henry, aku mencintaimu.

KAKEK : Kita adalah dua tangkai mawar yang saling berbelitan, akupun mencintaimu.

NENEK : Ingkatkah kau pohon landen di kebun rumah orang tuaku.

KAKEK : Pohon lenden itu manisku ?Adalah kipas raksasa yang mengagumkan.

NENEK : Kita berdua suka membaca buku di situ, waktu itu kau sedang gila belajar kesusastraan, kau ucapkan padaku sebuah sajak John Concord yang bernama Huesca.

KAKEK : Dan kau lalu mengucapkan sajak Van Ostajen yang bernama Malopee.

NENEK : Maukah kau mengucapkan Huesca sekali lagi untuk saya?

KAKEK : Maukah kau mengucapkan Malopee sekali lagi untuk saya ?

(NENEK BERDIRI MEMULAI, KAKEK MENYAMBUNG DENGA HUESCA)

NENEK : Terima kasih manisku.
(BUNYI KERETA)

NENEK : Dengarlah.

KAKEK : Kereta.

NENEK : Kereta kencana.

(TIBA-TIBA KEDUANYA MEMEGANG JANTUNGNYA DENGAN KESAKITAN, KAKEK MAJU DUA LANGKAH )

KAKEK : Putri Zeba, inilah teh dari Timur. (MAJU DUA LANGKAH)

NENEK : Inilah kue Cherio untuk putra Perancis.

(KEDUANYA RUBUH, LONCENG BERDENTANGAN DUA BELAS KALI. LAMPU PADAM DAN SELESAILAH SANDIWARA INI )

PPPG KESENIAN YOGYAKARTA

29 JANUARI 2004
 Lakon
MATAHARI DI SEBUAH JALAN KECIL
Karya Arifin C. Noor

Sebentar lagi berkas-berkas di langit akan buyar dan matahari akan memulai memancarkan sinarnya yang putih, terang dan panas. Jalan itupun akan mulai hidup, bernafas dan debu-debu akan segera berterbangan mengotori udara.
Jalan itu bukan jalan kelas satu. Jalan itu jalan kecil yang hanya dilalui kendaraan-kendaraan dalam jumlah kecil. Tetapi sebuah pabrik es yang tidak kecil berdiri di pinggirnya dan pabrik itu memiliki gedung yang sangat tua. Di depan gedung itulah para pekerja pabrik mengerumuni simbok yang berjualan pecel di halaman.
Seorang laki-laki yang sejak malam terbaring, tidur di ambang pintu yang terpalang tak dipakai itu, bangun dan menguap setelah seorang yang bertubuh pendek membangunkannya. Laki-laki itu adalah penjaga malam.

PENJAGA MALAM : Uuuuuh, gara-gara pencuri, aku jadi kesiangan.

SI PENDEK : Tadi malam ada pencuri?

PENJAGA MALAM : Di sana, di ujung jalan itu! (menunjuk)

SI PENDEK : Tertangkap?

PENJAGA MALAM : Dia licik seperti belut. (menggeliat lalu pergi)

SI PENDEK  (duduk lalu membaca koran)

Seorang pemuda (anak laki-laki) membawa baki di atas kepalanya lewat. Ia menjajakan kue donat dan onde-onde. Suaranya nyaring sekali. Tak ada orang mengacuhkannya. Begitu ia lenyap seorang pemuda lewat pula yang berjalan dengan perlahan, berbaju lurik kumal, sepatu kain yang sudah rusak dan buruk, wajahnya pucat. Sebentar ia memperhatikan orang-orang yang tengah makan lalu ia pergi dan iapun tak diperhatikan orang.

Gemuruh mesin yang tak pernah berhenti itu, yang abadi itu, makin lama makin mengendur daya bunyinya sebab lalu lintas di jalan itu mulai bergerak dan orang-orang semakin banyak di halaman pabrik itu. Simbokpun makin sibuk melayani mereka. Lihatlah!

SI TUA (menerima pecel) Sedikit sekali.

SIMBOK (tak menghiraukan dan terus melayani yang lain)

SI PECI : Ya, sedikit sekali (menyuapi mulutnya)

SI TUA : Tempe lima rupiah sekarang.

SI KACAMATA : Beras mahal (membuang cekodongnya) kemarin istriku mengeluh.

SI PECI : Semua perempuan ya ngeluh.

SI KURUS : Semua orang pengeluh.

SI KACAMATA : Kemarin sore istriku berbelanja ke warung nyonya pungut. Pulang-pulang ia menghempaskan nafasnya yang kesal……. Harga beras naik lagi, katanya.

SI PECI : Apa yang tidak naik?

SI TUA : Semua naik.

SI KURUS : Gaji kita tidak naik.

SI KACAMATA : Anak saya yang tertua tidak naik kelas.

SI TUA : Uang seperti tidak ada harganya sekarang.

SI KURUS : Tidak seperti…. Ah memang tak ada harganya.

SI TUA (mengangguk-angguk)

SI PECI : Ya.

SI KACAMATA : Ya.

SI PENDEK : Menurut saya (menurunkan koran yang sejak tadi menutupi wajahnya. Sebentar ia berfikir sementara kawannya bersiap mendengar cakapnya). Menurut saya, sangat tidak baik kalau kita tak henti-hentinya mengeluh sementara masalah yang lebih penting pada waktu ini sedang gawat menantang kita. Dalam seruan serikat kerja kitapun telah dinyatakan demi menghadapi revolusi dan soal-soal lainnya yang menyangkut negara kita harus turut aktif dan bersiap siaga untuk segala apa saja dan yang terpenting tentu saja perhatian kita.

SI TUA (menggaruk-garuk)

SI PENDEK : Ya, baru saja saya baca dari koran….nich, korannya…. Bahwa kita harus waspada terhadap anasir-anasir penjajah, kolonialisme. Kita harus hati-hati dengan mulut yang manis dan licin itu. (tiba-tiba batuk dan keselek)…..tempe mahal tidak enak rasanya… (meneruskan yang semula) beras yang mahal hanya soal yang tidak lama.

SI PECI : Ya.

SI KACAMATA : Ya.

SI PENDEK : Ya.

SI TUA : Dulu (batuk-batuk), dulu saya hanya membutuhkan uang sepeser untuk sebungkus nasi.

SI PECI : Dulu?

SI TUA : Ketika jaman normal.

SI KURUS : Jaman Belanda.

SI TUA : Ya, jaman Belanda. Untuk sehelai kemeja saya hanya membutuhkan uang sehelai rupiah.

SI KURUS : Tapi untuk apa kita melamun, untuk apa kita mengungkap-ungkap yang dulu?

SI PENDEK (makin berselera) : Ya, untuk apa? Untuk apa kita melamun? Untuk apa kita mengkhayal? Apakah dulu bangsa kita ada yang mengendarai mobil? Sepedapun hanya satu dua orang saja yang memilikinya. Kalaupun dulu ada itulah mereka para bangsawan, para priyayi dan para amtenar yang hanya mementingkan perut sendiri saja. Sekarang lihatlah ke jalan raya.

SI PENDEK :  …… Lihatlah Kemdal Permai, stanplat. Pemuda-pemuda kita berkeliaran dengan sepeda motor. Kau punya sepeda? Ya, kita bisa mendengarkan lagu-lagu dangdut dari radio. Ya?

SI KACAMATA : Ya.

SI PENDEK : Ya, tidak?

SI KURUS : Ya.

SI PENDEK : Ya, tidak?

SI TUA (mengangguk-angguk)

SI PENDEK : Sebab itu kita tidak perlu mengeluh, apalagi melamun dan mengkhayal, sekarang yang penting kita bekerja, bekerja yang keras.

SI KACAMATA : Saya juga berpikir begitu.

SI PENDEK : Kita bekerja dan bekerja keras untuk anak-anak kita kelak.

SI KACAMATA : Saya ingin anak saya memiiki yamaha bebek.

SI PENDEK : Asal giat bekerja kita bebas berharap apa saja.

SI KURUS : Tapi kalau masih ada korupsi? Anak kita akan tetap hanya kebagian debu-debunya saja dari motor yang lewat di jalan raya.

SI PECI : Ya.

SI KACAMATA : Ya.

SI TUA : Ya, sekarang kejahatan merajalela.

SI KURUS : Semua orang bagai diajar mencuri dan menipu.

SI KACAMATA : semua orang.

SI KURUS : Uang serikat kerja kitapun pernah ada yang menggerogoti (melirik kepada si pendek)

SI PECI : Ya, setahun yang lalu. (melirik si pendek)

SI KACAMATA : Ya, dan sampai sekarang belum tertangkap tuyulnya. (melirik pad si pendek)

SI TUA (mengangguk-angguk)

PEMUDA muncul lagi, mula-mula ragu lalu ia turut bergerombol dan makan pecel.

SI PECI : Ya, setahun yang lalu (melirik si pendek) Sekarang kita sukar mempercayai orang.

SI KURUS : Bahkan kita takkan percaya lagi pada kucing. Kucing sekarang takut pad tikus dan tikus sekarang besar-besar, malah ada yang lebih besar daripada kucing, dan adapula tikus yang panjangnya satu setengah meter dan empat puluh kilogram beratnya. Tapi yang lebih pahit kalau kucing jadi tikus alias kucing sendiri sama kurang ajarnya dengan tikus.

SI PECI : Ya, sekarang kucing malas-malas dan kurang ajar.

SI KACAMATA : Dunia penuh tikus sekarang.

SI KURUS : Dan tikus-tikus jaman sekarang beraqni berkeliaran di depan mata pada siang hari bolong.

SI TUA : Omong-omong perkara tikus, (batuk-batuk) sekarang ada juga orang yang makan tikus.

SI KACAMATA : Bukan tikus, cindel. Orang Tionghoa di tempat saya biasa menelan cindel hidup-hidup dengan kecap, mungkin untuk obat.

SI TUA : Bukan cindel, tikus-tikus, Wirog. Petani-petani sudah sangat jengkel karena diganggu sawahnya, sehingga mereka dengan geram dan jengkel lalu memakan tikus-tikus sebagai lauk, daripada mubazir. Tapi ada juga yang memakan tikus itu sebab……….lapar.

SI PECI : Ya, sekarang sudah hampir umum di kampung-kampung, bahkan ada juga anjuran dari pemerintah setempat.

SI KURUS (pada si tua) : Enak?

SI TUA : Ha?

SI KURUS : Sedap?

SI TUA : Saya tidak turut makan (tersenyum).

Semua tertawa. Lonceng bekerja berdentang. Mereka masing-masing menghitung dan menyerahkan uang pada simbok kemudian pergi bekerja, lewat jalan samping. Yang terakhir adalah si pendek.

SI PENDEK : Berapa Mbok?

SIMBOK : Apa?

SI PENDEK : Nasi pecel dua, tempe satu, tahu satu, rempeyek satu.

SIMBOK : Tujuh puluh lima.

SI PENDEK  : Bon. (pergi)

Pemuda menghabiskan makannya dengan lahap sekali, setelah membuang cekodongnya ia minta air yang biasa disediakan oleh penjual pecel itu. Ia berdiri, merogoh saku celana. Ia cemas, saku baju dirogohnya. Ia makin cemas, simbok memperhatikan dengan biasa.

SIMBOK : Ada yang hilang?

PEMUDA : Barangkali tidak.

SIMBOK : Apa?

PEMUDA : Dompet.

SIMBOK : Dompet? Ada uang di dalamnya?

PEMUDA : Juga surat keterangan penduduk. Tapi (mengingat-ingat) barangkali saya lupa dan tidak hilang. Tadi malam saya mengenakan baju hijau dengan celana lurik hijau. Yang mungkin dompet itu dalam saku baju hijau….. Berapa Mbok?

SIMBOK : Nasi dua.

PEMUDA : Tempe dua, tahu tiga.

SIMBOK : Delapan puluh.

PEMUDA (seraya hendak pergi) :Sebentar saya pulang mengambil uang. Dompet saya dalam saku baju hijau barangkali.

SIMBOK : Nanti dulu.

PEMUDA : Tak akan lebih dari sepuluh menit. Segera saya kembali.

SIMBOK : Tapi sebentar lagi saya mau pergi dari sini.

PEMUDA : Tapi dompetku ketinggalan di rumah. Sebentar rumahku tidak jauh dari sini.

SIMBOK : Ya, tapi sebentar lagi saya akan pergi dari sini.

PEMUDA : Sebentar (akan pergi)

SIMBOK : (berdiri dan berseru) Hei, nanti dulu. Bayarlah baru kau boleh pergi.

PEMUDA : Jangan berteriak. Tentu saja saya akan membayar. Tapi saya mesti mengambil uang dulu di rumah. Mbok tidak percaya?

SIMBOK (diam)

PEMUDA : Tunggulah sebentar, saya orang kampung sini juga.

TERDENGAR ADA SUARA : Ada apa Mbok?

SI KURUS : Ada apa Mbok? (di jendela)

SIMBOK : Dia belum bayar.

PEMUDA : Tunggulah lima menit (pergi).

SI KURUS : Hai, dik! Tunggu!

PEMUDA : Saya akan mengambil uang. Saya belum membayar makanan saya, sebab itu saya akan pulang mengambil uang saya. Dompet saya ketinggalan.

SI KURUS : Ya, tapi jangan main minggat-minggatan.

PEMUDA : Saya tidak berniat lari atau minggat, lagipula saya sudah bilang sama si Mbok.

SI KURUS : Simbok mengijinkan?

PEMUDA : Saya Cuma sebentar.

SI KURUS : Simbok memperbolehkan engkau pergi?

PEMUDA (diam)

SI KURUS : Simbok keberatan engkau meninggalkan tempat ini sebelum engkau membayar makananmu.

PEMUDA : Bagaimana dapat saya bayar? Dompet saya ketinggalan.

SI KURUS : Ya, tapi jangan main minggat-minggatan.

PEMUDA : Saya tidak berniat minggat atau lari.

SI KURUS (lenyap dari jendela, muncul dari pintu samping) Dimana rumahmu?

PEMUDA : Dekat.

SI KURUS: Dekat di mana?

PEMUDA : Di kampung ini.

SI KURUS : Ha? (pada Simbok) Mbok, kenal pada anak itu?

SIMBOK : Seumur hidup baru pagi ini saya menjumpainya. Tapi peristiwa semacam ini kerap kualami. Dulu saya percaya ada orang yang betul-betul ketinggalan uangnya tetapi orang-orang sebangsa itu tidak pernah kembali. Seminggu yang lalu saya tertipu dua puluh rupiah. Tampangnya gagah dan meyakinkan sekali, waktu itu ia bilang uangnya tertinggal di rumah. Tapi sampai hari ini pecel yang dimakannya belum dibayar. Benar dua puluh itu tidak banyak, tetapi dua puluh kali sepuluh adalah tidak sedikit. Sekarang saya sudah kapok dan cukup pengalaman.

SI KURUS
Baru sekarang ini kau jajan pada simbok, bukan?

PEMUDA
Ya.

SI KURUS
Lalu kenapa kau berani-berani jajan padahal kamu tahu tak beruang.

PEMUDA
Saya beruang.

SI KURUS : Bayarlah sekarang.

PEMUDA : Uang saya ketinggalan.

SI KURUS : Kenapa kau berani jajan.

PEMUDA : Saya tidak tahu kalau uang saya ketinggalan di saku baju hijau. Dan sekarang saya akan pergi mengambil uang itu.

Muncul di jendela, si peci

SI PECI : Ada apa dia?

SI KURUS : Makan tidak bayar.

SI PECI : Siapa?

SI KURUS : Pemuda ini.

SI PECI : Dia? (lenyap dari jendela muncul dari pintu)

SI KURUS : Kau bayarlah sebelum orang-orang ramai datang ke sini.

SI PECI : Ya, bayarlah. (pada simbok) Berapa dia habis?

SI KURUS : Berapa Mbok?

SIMBOK : Delapan puluh.

Dua orang anak masuk, mereka menonton

SI KURUS : Kenapa jadi diam?

SI PECI : Kenapa?

PEMUDA : Saya tidak berniat minggat.

SI KURUS : Masih muda sudah belajar tidak jujur. Masih muda sudah belajar makan tanpa jerih payah.

SI PECI : Kenapa tidak membayar?

PEMUDA : Saya mau membayar, uang saya ketinggalan.

SI PECI : Ketinggalan di mana?

SI KURUS : Di bank?

PEMUDA : Di rumah.

SI KURUS : Di mana rumahmu?

PEMUDA : Di sini.

SI KURUS : Di sini di mana?

PEMUDA : Di kampung ini.

SI KURUS : Kau warga kampung ini?

PEMUDA : Saya orang baru.

SI KURUS : Kau tahu nama kampung ini?

PEMUDA : Pegulen.

SI KURUS : Pegulen? Di RT mana kau tinggal?

PEMUDA : Di RT lima.

SI KURUS : RT lima betul?

PEMUDA : Kalau tidak keliru.

SI KURUS : Kalau tidak keliru?

PEMUDA : Mungkin saya lupa, saya orang baru.

SI KURUS : Baik. Siapa kepala RT lima?

PEMUDA : Saya orang baru di kampung ini.

SI KURUS : Tentu saja kau harus mengatakan orang baru di kampung ini, sebab kalau kau mengatakan orang lama di kampung sini tentu kau harus menjawab siapa nama kepala RT lima. Baik, dari mana asalmu?

PEMUDA : Muntilan.

SI KURUS : Dekat. Nah, kau katakan di mana tempat tinggalmu?

PEMUDA : RT lima Pegulen.

SI KURUS : RT lima dimana?

PEMUDA : Di RT lima.

SI KURUS : Ya, di rumah siapa?

PEMUDA : Dekat bengkel Slamet.

SI KURUS : Bengkel Slamet, bengkel mobil itu?

PEMUDA : Bengkel sepeda.

SI KURUS : O.., Ya betul, bengkel sepeda. Di mana bengkelnya?

PEMUDA : Di dekatnya.

SI KURUS : Di atasnya?

PEMUDA : Di sebelahnya.

SI KURUS : Ya, di sebelah atas.

PEMUDA : Sebelah kiri.

SI KURUS : O…, rumah siapa itu?

PEMUDA : Rumah tukang sepatu.

SI KURUS : Hapal sekali. Tukang sepatu siapa namanya?

PEMUDA : E….. Mas Narko, Sunarko.

SI KURUS : Salah, ternyata kau bohong. Nah, sejak sekarang saya akan memanggilmu pembohong. Rumah itu adalah rumah saya. Di muka rumah itupun berdiri rumah Simbok ini. Kau bohong.

PEMUDA : Saya tidak bohong. Bukankah diantara rumah saudara dan bengkel ada sebuah rumah petak yang agak bagus.

SI KURUS : Kau cerdas sekali, tapi tolol. Rumah itupun rumah pak Prawiro, bukan rumah mas Sunarko.

PEMUDA : Barangkali namanya Sunarko Prawiro.

SI KURUS : Indah sekali namanya. Kau yakin benar nama itu?

PEMUDA : Saya tidak begitu kenal namanya.

SI KURUS : Tentu saja pak Prawiro itu sangat tidak kenal padamu.

PEMUDA : Tapi saya kenal orangnya dan saya mondok pada istrinya.

SI KURUS : Setiap orang yang punya sepatu yang rusak dan buruk seperti sepatumu pasti kenal padanya. Dia tukang sepatu.

PEMUDA : Tapi saya betul-betul kenal.

SI KURUS : Betul?

PEMUDA : Betul.

SI KURUS: Betul?

PEMUDA (diam)

SI KURUS : Puh! Pembohong. Tampangmu saja sudah mirip bajingan. Pintar kau ngoceh ya? Saya adalah orang yang paling benci pada ketidakjujuran, saya muak. Saya menyesal sekali melihat penipu semuda kau. Tapi saya terlanjur muak. Saya benci, kau tahu? Gaji saya sedikit, tapi saya tak mau menipu atau mencuri. Ya, tentu saja kau semakin kurus, sebab benar kata Joyoboyo, yang pintar keblinger yang jujur mujur. Sekarang baiklah, bayar atau tidak? Ya memang sedikit uang delapan puluh rupiah, tapi bagi saya kejahatan tetap kejahatan, dan saya benci serta menyesal, yang melakukan perbuatan hina itu adalah manusia bukan anjing. Dan lebih menyesal lagi kalau yang melakukan kerja nista itu adalah bakal dan calon orang, yaitu kamu, PEMUDA. Nah, bayar atau tidak? Terus terang.

PEMUDA : Saya mau bayar.

SI KURUS : Bayarlah!

PEMUDA : Uang saya ketinggalan.

SI KURUS : Ketinggalan di mana? Di Bank? Di kantong pak Prawiro atau mau mencopet dahulu? Mau belajar jadi garong… biar… cair kepalamu? Sayang kumismu jarang, kalau panjang dan lebat saya sudah gemetar.

PEMUDA : Betul, uang saya ketinggalan.

SI KURUS : Bohong!

PEMUDA : Sungguh.

SI KURUS : bohong. Kau tadi sudah bohong sebab itupun kau pasti pembohong.

PEMUDA : Percayalah mas, kalau saya berbohong………

SI KURUS : (memotong) Bohong. Bohong kau…… (geram hendak memukul pemuda itu tetapi tiba-tiba ia mengurungkan niatnya) Saya percaya kau adalah manusia, bukan binatang. Saya jadi ingat saudara saya sendiri. Seperti sekarang juga saya merasa parah dalam hati. Waktu itu saya tidak bisa menahan diri lagi sebenarnya, tetapi saya juga mengerti bahwa saudara saya itu mesti masuk penjara, sebab ia telah melakukan kejahatan yang kubenci, tapi saya merasa parah dan tetap benci akan apa yang berbau ketidakjujuran. Sekarang terus terang saja mau bayar atau tidak?

Dari pintu muncullah si kacamata, si tua, dan lain-lain, yang tak hadir hanya si pendek.

SI KACAMATA : Ada apa?

SI PECI : Makan tidak bayar.

SI TUA : Siapa, pemuda ini?

SI PECI : Ya, pemuda ini?

SI KACAMATA : Segagah ini?

SI PECI : Kalau tidak gagah barangkali tidak berani ia menipu (pada pemuda) Hei, pemuda. Kau punya uang tidak?

PEMUDA (lama) Punya.

SI PECI : Nah, kenapa mesti tidak bayar?

PEMUDA : Uang saya ketinggalan.

SI PECI : Ketinggalan? Lebih baik tidak usah berbohong. Kalau bersikeras semua orang akan mengempalkan tangannya dan darah akan mengotori mukamu nanti. Bayar atau…

PEMUDA : Uang saya ketinggalan.

SI KURUS : Ketinggalan-ketinggalan. Sekarang mengakulah. Kau mau menipu ya?

SI PECI : Punya uang tidak?

SI KURUS : Mengaku.

SI PECI : Kau pasti tidak punya uang.

SI KURUS : Dan kau mengaku penipu.

SI TUA : Nah, bilang saja terus terang, jangan kau sakiti badanmu sendiri.

SI KACAMATA : Sudah kawan-kawan, saya yakin dia tidak beruang. Tapi….. Sebab itu lebih baik ia menanggalkan celananya saja. Kalau memang dia berduit tentu ia nanti boleh mengambil celananya kembali. Jadi celananya jadi jaminan. Bagaimana?

SI PECI : Ya, lebih baik begitu, semua orang setuju.

SI KURUS : Tanggalkan pakaianmu.

PEMUDA : Saya malu.

SI KURUS : Tidak, kau tidak punya malu. Kau tidak malu makan tidak bayar. Tanggalkan celanamu! Tanggalkan!

SI PECI : Cepat!

PEMUDA : Saya tidak pakai celana dalam.

SI KURUS : Bohong, kau pembohong sebab itu kau pembohong.

PEMUDA : Sungguh mati. Demi Tuhan, tentang celana dalam saya tidak berbohong. Kalau saya menanggalkan pantalon saya, saya telanjang. Oh, sungguh saya tidak tahu bagaimana saya mengatakannya. Dan tentu saja sayapun tak dapat membuktikannya. Percayalah kalau saya membuka celana, akan telanjanglah saya.

SI KURUS : Sejak tadi kau sedang menelanjangi dirimu sendiri dan kau diam-diam telah memberi api pada setiap orang yang telah melihatmu.

Tiba-tiba seorang perempuan juragan batik bersama pembantu yang memayunginya muncul dan ia tertarik untuk melihat kejadian itu.

PEREMPUAN : (dengan yang nyata-nyata dibuat-buat ia bicara pada si kacamata) Ada apa to dik?

SI KACAMATA : Makan tidak bayar.

PEREMPUAN : Siapa?

SI KACAMATA : Si pemuda ini.

PEREMPUAN : O, lalu?

SI KACAMATA : Mula-mula dia mau menipu pura-pura akan mengambil uang yang katanya ketinggalan tetapi agaknya dia berbohong. Sebab itu kami sepakat kalau ia menanggalkan celananya untuk pengganti uang atau untuk jaminan kalau memang di punya uang.

PEREMPUAN : Berapa tho, habisnya?

SI KACAMATA : Berapa dik?

SI KURUS : Delapan puluh rupiah.

PEREMPUAN : Ah, sedikit. Baiklah, jangan ribut-ribut. Kasihan. (mengambil uang dari tasnya) Ini Mbok seratus rupiah.

SI KURUS : Nanti dulu, Mbakyu. Mbakyu bilang kasihan padanya, sehingga mendorong rasa kasihan Mbakyu untuk membayarnya. Tidak, tidak, saya tidak tersinggung. Sayapun memang kalau delapan puluh itu sedikit dan saya juga dapat atau siapa saja masih mampu memberi, tapi bukan itu soalnya. Kalau Mbakyu kasihan padanya sama seperti Mbakyu membantu melahirkan seorang bandit di tanah kewalian ini. Saya juga maklum, apa yang Mbakyu lakukan itu mulia, tapi hal yang mulia juga minta tempat dan saat yang tepat. Dan sekarang saat tidak minta yang sejenis itu. Apa yang kami lakukan sekarang adalah juga kemuliaan, meskipun menampakkan kekasaran dan penghinaan, tetapi ia juga bersama kemuliaan yang diridhoi Tuhan. Dan jangan lupa saya dan teman-teman di sini atau siapa saja juga mampu kalau berniat memberi anak pemuda ini uang seratus rupiah, tetapi bukan itu soalnya.

SI PECI : Ya, itu soalnya.

SI KACAMATA : Ya.

SI TUA (mengangguk-angguk)

Tanpa memberi reaksi apa-apa perempuan dan pembantunya pergi melanjutkan perjalanan.

SI PECI : Sombong benar perempuan itu.

SI KURUS : Mau buka celana tidak?

PEMUDA (diam)

SI KURUS : Baiklah, tadi saya sudah berkata dan saya percaya bahwa kau bukan anjing, karenanya kau pasti memiliki rasa malu. Baik, sekarang bajumu saja kau tanggalkan.

SI PECI : Ya, baju saja.

SI KACAMATA : Ya, baju saja.

SI PECI : Ayo cepat.

SI TUA : Nah, sebentar lagi kalau mata orang-orang di sini copot dan melotot, maka gemparlah di muka pabrik ini, sebab ada seorang pemuda yang dipukuli ramai-ramai oleh orang banyak.

PEMUDA : Saya melepaskan baju saya, Pak!

SI KURUS : Lepaskan!

PEMUDA : Saya tidak berkaos.

SI PECI : Tak perduli. Tanggalkan.

SI KURUS : Malu, malu! Priyayi kamu? Ha? Tak berkaos malu, tapi berani menipu. Laknat kau ini. Penipu bagi dirimu sendiri! Lepaskan!

PEMUDA : Saya akan melepaskan tapi bukan baju melainkan sepatu.

SI PECI : Sepatu kain yang jebol itu? Kau telah membuat dagelan yang lebih menjengkelkan lagi tau?

SI KACAMATA : Ya, satu rupiah tak akan ada orang yang sudi membeli sepatu abunawas itu.

Tiba-tiba terdengar gemuruh suara truk. Mendekat dan berhenti tidak jauh dari tempat itu.

SI KACAMATA : Nah, pak sopir datang. Biarlah dia yang membereskannya biar tahu rasa kalau nanti lengannya sudah dikilir oleh pak sopir.

SI SOPIR : Ada apa hah?

SI PECI : Makan tak bayar.

SI SOPIR : Si kecil ini?

SI KACAMATA : Ya, si kecil ini.

SI SOPIR : (pada pemuda) Oo, sudah kenyang, hah? Terlalu pagi. Matahari masih terlalu rendah untuk dikhianati. (pada si peci) Lalu, akan kita apakan dia?

SI PECI : Ia harus menanggalkan bajunya.

SI SOPIR : Begitu semestinya. Lebih baik makan baju daripada makan tidak bayar, bukan? Lalu?

SI PECI : Ia menolak melepaskan bajunya.

SI SOPIR : Itu tidak adil, ia bisa menolak untuk telanjang badan tapi ia makan tanpa bayar seenaknya. Itu tidak adil. (pada pemuda) He, anak muda. Kau pemuda Indonesia, bukan? Tidak, jangan mengangguk! Kalau kau meng-iya-kan pertanyaan saya kau sama dengan mengatakan bahwa pemuda Indonesia itu dibolehkan makan di warung tanpa bayar. Tidak, tanah ini akan menangis mendengar cerita itu. Dengarkan! Dulu waktu sehabis perang saya juga pernah menjadi pencopet, tanpa perduli lagi. Tapi malang rupanya tangan ini terlampau kasar sehingga tangan ini lebih suka diborgol, dalam penjara. Nah, di tempat yang sepi itu aku mengakui bahwa aku telah menyakiti orang, menyakiti hati dari tanah yang kita cintai ini dan pasti Tuhan akan menutup pintuNya bagi orang semacam aku. Sebab itulah setelah aku keluar dari rumah yang baik dan mulia itu, kemudian aku menjadi lebih maklum bahwa kita tak boleh berbuat jahat. Tidak, jangan. Tapi dengarlah lagi! Kau tahu, kalau kau berjalan ke arah barat dari arah sini kau akan sampai pada sebuah perempatan, di mana berdiri beberapa batang pohon beringin. Kau tentu sudah tahu di belakang pohon beringin itu berderet asrama. Dan kau tahu asrama apa itu? (lama) Asrama Polisi! Nah, kau suk kuantarkan ke asrama itu?

PEMUDA (diam)

SI SOPIR : Suka! Tentu tidak, ya? Nah, copot bajumu!

PEMUDA : Saya malu.

SI SOPIR : Jangan malu-malu (keras) copot!

Pemuda menanggalkan bajunya pada si peci.

SI PECI : (menyerahkan baju kepada Simbok) Simpanlah baju ini Mbok. Nanti kalau ia kembali membawa uang berikan baju ini.

SI SOPIR : Beres sudah! Ayolah, kita bekerja sekarang. Habis waktunya terbuang.

Orang-orang pergi, masuk ke dalam pabrik. Kecuali si sopir yang pergi ke arah dari mana ia muncul tadi. Tapi belum lama dua langkah orang-orang bergerak tiba-tiba….

SI KURUS : Saya kira kalau baju itu disimpan Simbok sekarang niscaya kurang aman. Lebih baik baju itu dititipkan pada Abduh yang kerjanya dekat jendela.

SI PECI : Baiklah, Mbok, saya membawa bajunya ke dalam. Kalau ada apa-apa panggillah saya. (menerima baju)

Beres sudah……orang-orang sudah mulai bekerja, di halaman ada simbok dan si pemuda. Gemuruh mesin kembali nyata. Lewat seorang perempuan menjajakan jenang gendul. Sangat nyaring suaranya.

PEMUDA : Mbok, mula-mula maksud saya tidak akan menipu. Sesudah dua hari ini saya hanya minum air mentah saja. Tidak makan apa-apa.

SIMBOK (diam)

PEMUDA : Seminggu yang lalu saya masih di Klaten, bekerja di sebuah bengkel. Ya aku tidak cukup dapat makan. Sebab itulah aku mencari pekerjaan di sini.

SIMBOK (diam)

PEMUDA : Asalku sendiri dari desa, desa yang wilayahnya di gunung kidul, Wonogiri. Juga Mbok pun tahu tanah macam apa yang menguasai tanah macam gunung kidul itu. Tanah tandus. Tanah yang tidak mengkaruniakan buah bagi mulut yang papa. Sebab itulah aku turun dan mengembara sampai ke pesisir utara ini. Tapi jarak selatan sampai ke pesisir utara tidak juga memberikan apa-apa. Karenanya aku terus menyusuri ke Barat, ke tanah wali ini, dengan harapan tanah serta rumah di kota ini akan sudi memberi makan saya. Tujuh hari sudah saya disini dan dua hari sudah saya lapar. Dan pada hari ketiga kelaparan saya membawa saya kemari ke tempat Mbok berjualan pecel. Tidak, saya tidak bermaksud menipu. Sekali-kali tidak (menengadah) Tuhan, kutuklah aku!

SIMBOK : (bangkit dan bergerak menuju jendela dan berseru) Abduh! Abduh!

SI PECI :  (di jendela) Ada apa Mbok?

SIMBOK : Mana baju tadi?

SI PECI : Dia membawa uang?

SIMBOK : Tidak, baju itu akan saya bawa ke pasar, saya jual.

SI PECI : Nanti direbut oleh anak itu lagi.

SIMBOK : Tidak, kemarikan saja.

SI PECI : Baiklah (lenyap dari jendela, kemudian Simbok menerima baju tadi lewat jendela)

PEMUDA : Ya, Mbok sebelum saya memesan nasi pecel tadi saya sudah berjanji pada diri sendiri, tidak, saya harus membayar! Entah kapan saja tapi harus bayar. Demi Allah, hukumlah saya. Ya, Mbok kalaupun saya pergi tak kembali kesini atau kapan saja saya pasti kemari untuk membayar makan saya. Ibu saya mengajarkan kejujuran dan hukum bahwa, bekerja artinya tenaga, bahwa bekerja artinya makan. Hal itu kusadari sejk aku mulai tahu bahwa tanah tempat saya berpijak sangat keras, begitu angkuh dan tandus.

SIMBOK (memberikan baju tanpa berkata apa-apa)

PEMUDA : Tidak Mbok, bukan maksud saya minta dikasihani, saya hanya ingin menceritakan dan saya hanya ingin mengatakan bahwa hati saya bersih. Terhadap baju itu sudah rela dan paham bahwa barang itu patut saya berikan pada Simbok sebagai ganti makanan yang telah saya makan.

SIMBOK : Terimalah.

PEMUDA : tidak.

SIMBOK : Terimalah.

PEMUDA : tidak.

SIMBOK : Terimalah.

PEMUDA : Mbok percayalah.

SIMBOK : Saya percaya sebab itu kau harus mau menerima baju kembali.

PEMUDA : Tapi baju ini bukan milikku lagi. Ibu bilang aku tidak boleh memiliki barang kepunyaan orang lain. Tidak… Ada air mata di mata Simbok.

SIMBOK : Tidak.

PEMUDA : Saya tidak tahan melihat orang menangis, meskipun ibuku senantiasa menangis setiap malam. Dan sekarang hanya tinggal tangisnya belaka sebab itu telah lewat. Simbok kasihan pada saya lalu menangis? Tidak!

SIMBOK : Tidak, saya ingat anak saya.

PEMUDA : Simbok punya anak?

SIMBOK: Ya, satu-satunya, jantan yang cantik.

PEMUDA : Dimana sekarang?

SIMBOK : Di sini.

PEMUDA : Di sini?

SIMBOK: Di Kendal. Di PENJARA.

PEMUDA : Ha?

SIMBOK : Ya, sayapun tak pernah menyangka, anak saya itu akan menjadi pencuri sepeda. Tidak, saya cukup memberi ia makan. Tapi barangkali disebabkan pergaulannya atau barangkali saya salah mengajar atau mendidik dia atau…..atau…..atau…. Oh, saya tidak tahu. Tapi aku tahu dan percaya matamu lain dengan matanya. Saya melihat matamu bening, sebab itu saya yakin kau tidak seperti anak saya. Kau seperti kemenakan saya. Kau pasti…Kau pasti anak baik. (tiba-tiba) Akh, cepat terimalah baju ini dan segeralah kau pergi dari tempat ini sebelum penjaga malam sampai kemari.

PEMUDA : (menerima baju itu) baiklah. Terima kasih dan selamat tinggal Mbok.

Begitu ia lenyap, muncul penjaga malam yang tampak baru selesai mandi. Ia tampak kedinginan.

PENJAGA MALAM : Minta pecel yang pedes (kedinginan). Katanya tadi ada pemuda yang mau menipu?

SIMBOK :  (tak begitu acuh) Ya.

PEMJAGA MALAM : Bagaimana tampangnya?

SIMBOK : Kurus dan cantik.

PENJAGA MALAM : Pakai baju lurik.

SIMBOK : Ya, kalau tidak salah.

PENJAGA MALAM : Bajigur! Bajigur! Kurang ajar dia. Tapi dia tak jadi menipu di sini bukan? Kemana ia? Jangkrik anak itu! Belut!

SIMBOK : Ada apa? Ada apa?

PENJAGA MALAM : Pasti dia. Kemarin malam dia juga menipu di sebuah warung di pasar Kauman.

SIMBOK : Haa….? (menelan ludah) Ya, Allah.

Langit di atas mulai kotor oleh nafas manusia dan lalu lintaspun mulai lebih ramai. Seorang anak laki-laki menjajakan es lilin lewat, tanda hari sudah siang. Suaranya nyaring, menyembul di sela-sela kesibukan.


SELESAI