Background
Assalamualaikum Wr. Wb.


Untuk melatih kemampuan Anda dalam membuat naskah drama dan pemahaman Anda terhadap drama, sekarang lanjutkanlah naskah drama "ANDI TIDAK SENDIRI" di bawah ini !

ANDI TIDAK SENDIRI


............................................................................
Setelah kejadian itu, andi berusaha mencari tahu siapa pelaku sebenarnya dari insiden tersebut. Dua temannya, Didi dan Igor berada di perpustakaan saat kejadian. Mereka berdua adalah murid kelas Antropologi yang sering menjahilinya. Memang murid kelas Antropologi terkenal dengan kenakalannya, dan mereka adalah salah satunya
@Di Kelas
A : (berjalan kearah Didi dan Igor dengan perasaan marah) Kalian ya yang menyobek buku perpus!
D n I : (kebingungan) Buku perpus?
A : Iya, buku perpus
D : Kami tidak pernah ke perpus, buat apa kami ke perpus
A : Halah! mengaku sajalah! Kalian sengaja menyobek buku tersebut biar aku yang harus ganti rugi kan
D : Kami tidak melakukannya
A : Pembohong!
I : Kenapa kau tuduh kami? Kau punya bukti kah
A : Buat apa mencari bukti, kalau penjahatnya sudah didepan mata
D : Kenapa kau bisa menuduh kami dengan tuduhan yang tidak jelas seperti itu?
A : Tidak jelas? Tentu saja ini sudah jelas! Kalian menyobek buku itu biar aku yang harus ganti kerugiannya. Mentang-mentang kalian orang kaya ya, memperlakukan orang miskin dengan seenaknya.
I : Hai Andi, memang kami sering jahili engkau, tapi kami juga punya rasa kemanusiaan. Jahili kau saja sudah cukuplah. Mana mungkin kami jahili orang tuamu juga
A : dasar tukang dusta! Sudah jelas aku lihat kalian menyobek buku perpus tersebut
I : kau berani ya denganku, kau belum pernah digilas traktor ya?
D : kami sudah bilang tidak, ya tidak
A : pendusta!
D : Tidak!
A : bohong!
D : Tidak!
I : wah, ingin dihajar rupanya anak ini
A : kalau kalian gak nyobek buku, apa buktinya?
D : kami seharian main UNO bersama anak-anak disini. Ini buktinya (menunjukan kartu UNO) kalo gak percaya, tanya saja Boni
A : tidak mungkin! Tadi jelas aku lihat kalian menyobek buku perpus. Aku sangat hafal muka-muka seperti kalian
I : kau mabuk kali,
A : tidak! Aku benar-benar melihat kalian tadi di perpus. Kenapa kalian tidak percaya padaku sih
D : Bagaimana kami bisa percaya padamu, kalau kau barusaja bilang bahwa kami ada di dua tempat yang berbeda dalam waktu yang sama
I : kau kira kami punya saudara kembar apa!
A : sumpah! Aku tadi lihat kalian disana, Iya kalian
I : Heh, sekarang kau pikir saja. Untuk apa kami menyobek buku-buku di perpustakaan? Kau ini aneh-aneh saja
A : lalu, jika bukan kalian yang aku lihat, Siapa? (sedikit ketakutan). Ya sudah kalau bukan kalian. Aku mau ke kelas dulu
Orang yang dilihat Andi ternyata bukan teman beda kelasnya. Didi dan Igor merasa iba dengan Andi. Mereka meras diri mereka ikut bertanggungjawab terhadap kasus ini
I : Andi, kau tunggu dulu
D : jangan pergi dulu.
A : Ada apa ? kan kalian terbukti nggak bersalah
D : bukan masalah itu ndi. Sebenarnya kami juga ingin tahu siapa peniru kami itu
A : jadi kalian mau membantuku? Makasih! (berusaha memeluk Didi dan Igor)
I : Ei, kau kira kita lelaki murahan apa! Main peluk peluk segala
A : habisnya, aku seneng banget ada orang yang mau peduli denganku (terharu)
D : Sekarang kita cari petunjuk-petunjuknya dulu. Pertama, kita cari di TKP awal, Perpustakaan.
Pencarian pertama dilakukan di perpustakaan untuk mencari petunjuk siapa pelaku dari penyobekan buku tersebut dan hasilnya adalah....
@ Di Perpustakaan
A : ini dia rak yang berisi buku-buku sobek tersebut. Lihat kan
I : Gilak! Banyak pula yang sobek ini
D : coba aku lihat. Hmmm kenapa buku yang sobek punya judul yang temanya hampir sama semua. “penjahat politik”
A : coba lihat dalam bukunya, apa ada yang mencurigakan
D :hmmm ada sebagian teks disini yang hilang
I : kau tau teks apa saja yang hilang
D : Tidak, kau Igor
I : kau kira aku peramal? Kau saja tak tahu, apalagi saya
A : bagaimana jika kita pinjam buku lain yang judulnya sama, terus cocokin dengan sobekan yang hilang itu
I : Ah, ide bagus itu.
Satu petunjuk sudah ditemukan, masih banyak petunjuk yang lainnya yang belum ditemukan Andi dan kawan-kawan.
A : Dapat, aku dapat sidik jari pelaku.
I : darimana kau tahu pelakunya siapa? Kau saja tak punya alat untuk memeriksa sidik jari
D : tentu saja dari mesin Fingerprint, jika peristiwa penyobekan itu terjadi tadi, maka pelakunya pasti siswa
A : coba lihat sidik jari ini. Terlalu lebar untuk tangan siswa. Dibandingkan dengan jempolku saja, masih setengah dari lebar sidik jari yang ada disini
I : sini, mana sidik jarinya. Biar aku cek kesana
A : ini
Masih Mencari Petunjuk.....
D : Andi, kau menemukan sesuatu
A : eee... lihat kesini. Ini aneh
D : apa yang aneh?
A : masa ada gula didalam perpustakaan. Sudah jelas dilarang makan di perpus
D : berarti pelakunya orang nakal. Andi, coba kamu tempelkan telunjukmu ke gula itu
A : kenap.. Auw!! Apa ini! Panas sekali!
D : Itu bukan gula biasa, gula biasa seharusnya sudah menjadi karamel disuhu sepanas itu
A : Lalu..
D : aku tahu! Ndi tolong ambilkan Air kapur
A : sebentar, aku ambilkan
Beberapa detik kemudian...
A : ini Di, airnya
D : (mengambil airnya dan menyiramkannya ke gula tersebut)
A : Di, gulanya ngeluarin asap
D : dia seperti, .. menguap
A : wah, kau pintar Di,kau bisa tahu kalau gula campur air kapur akan menguap. Kesalahan besar kau masuk kelas Antropologi. Seharusnya kaumasuk kelas kimia atau fisika
D : Tidak, sebenarnya tidak. Letak keanehan yang sebenarnya disini. Benda ini menguap ketika disiram air kapur, sedangkan gula basa tidak akan bereaksi
A : lalu, kenapa kau memilih Air kapur
D : entahlah, hanya tebakan beruntung saja
I : Ndi! DI!
D : ada apa ribu-ribut?
I : sidik jari yang kau temukan tadi tak terdaftar di instansi sekolah ini
A : sudah kamu coba di Fingerprint ruang guru?
I : bagaiman aku bisa mencoba sidik jari ini, kalau sidik ini tidak muat ke mesinnya. Percayalah, ini pasti bukan manusia
A : sudah! Daripada kamu membuat cerpen, lebih baik kita pinjamkan ini dulu
Kebingunganpun terjadi. Mereka menemukan petunjuk, tetapi petunjuk yang tak normal. Petunjuk tak normal, berarti pelaku yang tak normal juga
@Depan Meja Peminjaman Buku
A : permisi pak, saya ingin meminjam buku-buku yang telah sobek ini pak
PP : Pinjam? Ambil saja buku ini, buku ini sudah tidak layak baca. Tulisannya banyak yang hilang. Jangan lupakan denda untuk membayar buku ini jika kamu tidak beli buku baru untuk menggantinya. Kira-kira sekitar Rp1.050.4000
I : Banyak benar hutang kau ndi
A : nanti kalau saya punya uang, akan saya bayar. Kalau sekarang,saya tidak punya uang
D : Oh ya, kami juga ingin meminjam judul buku yang sama dengan buku-buku yang sobek tersebut
PP : Sebentar biar saya cek stok bukunya..... hmmmm....(mencari) nah, ketemu! Ini bukunya
A : terimakasih pak
PP : ..............
Setelah mereka meminjam buku tersebut, mereka langsung pergi dari hadapan petugas perpustakaan. Mereka mulai menyusun kata kata yang hilang tersebut
@ Di Kantin
A : Coba kita lihat, tulisan apa saja yang hilang (mengeluarkan buku yang tadi dipinjam) ini dia. Didi kau mengecek buku ini dan ini, Igor kamu mengecak buku ini, dang aku mengecek sisanya, lalu nanti masing-masing tulis hasilnya di kertas
D n I : Oke
Mengecek........ dan Menulis.........
A : bagaimana hasilnya?
D : ini yang aku dapat, “Tanah” ; “Serahkan” ; “ dari”
I : kalau saya ini, “Kekuasaan” ; “Akan tiba” ; “ Langit
A : kalau aku “Pada kami” ; “Sang Destroyer”
I : bagaimana kau menyusun semua pecahan ini
A : sebentar, mmm.... Bumi dari Langit... Ah pusing aku. Di, kamu bisa jawab?
D : hmm. Munkin yang benar “Serahkan kekuasaan tanah pada kami sang destroyer akan tiba dari langit”
I : apa maksudnya kata itu
A : tanah yang dimaksud, mungkin tanah yang kita pijaki ini, Indonesia
D : Destroyer akan tiba dari langit
I : Destroyer artinya penghancur kan?
A : menurut aku, pengertiannya itu sang penghancur yang berasal dari arah langit ingi menjajah indonesia
D : sidik jari besar, bekas gula yang aneh, sobekan-sobekan petunjuk.... (merenung)
A : ada apa Di?
D : kita menghadapi musuh baru yang dapat berubah wujud. Ini bukan kasus penyobekan buku lagi. Ini berhubungan dengan intel, badan pertahanan dan keamanan negara. Kita menghadapi serbuan ALIEN!
A n I : Alien!!!
D : ya, Alien
A : huuh (menghela nafas) tenang. Sekarang kita cari tahu kemana Didi dan Igor palsu tersebut pergi
I : Bagaimana kalau tanya satpam saja?
D : ide bagus igor, ayo!
Petunjuk demi petunjuk telah dibongkar. Andi dan kawan-kawan menemukan bahwa pelaku sebenarnya adalah makhuk asing. Andi yang semula hanya ingin tahu kejelasan dari kasusnya, kini dibebani misi untuk selamatka dunia!..
@Pos Satpam, Jam pulang sekolah
A n D n I : perimisi pak
PS : iya nak, ada apa
I : waktu itu bapak lihat saya dan kawan saya pergi?
PS : Oh ya, kamu yang bapaknya meninggal itu kan
I : Gil..(mulutnya ditutupi oleh Didi)
A : kemana mereka pak?
PS : kenapa ndak tanyak langsung aja?
A : anu pak, masalahnya mereka ini punya penyakit Amnesia mendadak pak, sampai lupa kalau bapaknya sudah meninggal
PS : mereka berdua kemarin pergi mengunjungi ayahnya yang barusaja meninggal di pemakaman Polehan
A : makasih pak (pergi keluar dari sekolah)
PS : ya hati-hati
Di perjalanan......
I : Gilak itu satpam! Bapak saya masih sehat bugar dirumah! Ini pasti perbuatan Alien plagiat itu. Minta dihajar mereka
A : sabar saja, kita pasti bertemu mereka. Di, kau sudah bawa persenjataan?
D : sudah! (menunjukan isi tasnya)
A : kalau begitu, ayo
Mereka pergi ke basis Alien tersebut dengan senjata buatan mereka sendiri. Mereka sepertinya punya rencana sendiri untuk menghancurkan para Alien tersebut
@ Kuburan Polehan
A : kalian lihat tanda-tanda mencurigakan?
I : belum. Di, senjata kita mana?
D : Ini dia! Jeng jeng jeng jeng!
I : kau mau setor nyawa ke Alien ya? Ini cuma pistol air
D : tapi bukan air biasa. Ini air kapur, satu-satunya kelemahan mereka yang aku tahu
A : Hei! sini, aku menemukan jejak gula! Mengarah ke rumah pemakaman itu (menunjuk kearah) Semua unit, maju! Go! Go ! Go!
@Di Rumah Pemakaman
I : tempatnya kok gelap begini?
A : alah Igor, garang-garang, ternyata takut begini
D : Semua, lihat! Tombol apa ini? Aku pencet ya
Greeek...
I : ini pasti pintu rahasia menuju ke kediaman Alien itu. Uh,
Didi ternyata menemukan tombol untuk menuju ke markas Alien. Bagaimana kelanjutannya? Simak terus Drama ini
Berjalan terus hingga menemukan cahaya, Akhirnya....
A : itu dia basisnya
I : (langsung meloncat daritempat tersebut dan berlari menuju ketengah basis Alien tersebut) Dimana kau Alien? Sini Duel sama saya! Saya tak takut sama kau!
D : (bebisik) dasar otak udang! Dia bisa menggagalkan misi kita
A : apa yang harus kita lakukan?
D : karna sudah terlanjur, ayo!
D n A : (meniru gaya masuknya Igor)jangan bergerak kalian Alien!
A : tunggu. Dimana Aliennya
Z : DISINI!!!
Alienpun mulai menampakkan dirinya. Prajurit Alien mulai masuk dari segala penjuru ruangan menyergap Andi dan kawan-kawan
I : Ih,, jelek amat muka kau
Z : kau berani menantang Zippo, Raja dari lima galaksi? Tak aka kuampuni kalian. Prajurit! Serang!
D : tunggu! Ini adalah bom air kapur! Aku tahu sbstansi penyusun tubuh kalian tidak tahan dengan air kapur!jika kalian mendekat, akan kuledakkan bom ini dan seluruh isi ruangan akan mati, kecuali kami manusia.
A : sekarang suruh para prajuritmu melucuti senjata mereka sendiri! Kita bicaraan hal ini dengan baik-baik
Z : Hngg.. Prajurit! Mundur!
A : sekarang kami ingin mengajukan pertanyaan kepada raja Zippo
Z : penguasa lima galaksi! Jangan lupakan itu!
A : Iya, Iya. Kami sudah mengidentifikasi pesan yang kau buat. Sebenarnya untuk siapa dan apa maksud dari isi pesan tersebut
Z : ehem, pesan itu sebenarnya belum selesai. Lanjutannya adalah “kami bosan melihat kau rusak sendiri tanahmu”. Kami sengaja membuat dari tulisan buku karna kami belum banyak mengerti tetang cara menulis tulisan bumi. Dan tulisan itu sebenarnya untuk raja di tanah ini
A : lalu, apa maksud isi pesan terakhir itu
Z : Kau tidak lihat apa, pemimpinmu merusak dan menggerogoti tanahmu sedikit demi sedikit! Sebagai yang baru dilantik untuk mengatur lima galaksi termasuk galaksu mu, galaksi putih, sudah sewajibnya untuk membuat kebijakan demi kesejahteraan penduduk, yaitu mengambil alih kekuasaan
D : kau tidak bisa begitu! Invasi tidak akan merubah apapun, bahkan justru dapat menyengsarakan
I : benar. Yang lalu biarlah berlalu. Kau tak lihat kami kah, para penerus bangsa? Memang banyak orang gila di DPR sana, tetap kami bertiga yakin bahwa masih lebih banyak generasi yang jujur dan amanah diluar sana yang akan menggantikan orang-orang gila itu
A : Cie.. tumben perkataanmu ada maknanya
I : kau kira kepalaku ini isinya hanya batu?
Z : baiklah, jika kalian bilang kalian dapat mengatur tanah kalian sendiri. Aku akan kembali ke tempatku. Untuk masalah bukumu yang rusak itu, akan kuperbaiki dan besoknya akan kukirim via pos. Dan untuk igor, maafkan prajuritmu karna telah menyebarkan berita palsu
I : Hnggg
Z : Baiklah, Prajurit! Kita pulang.
Akhirnya raja Zippo kembali ke singgasananya dan indonesia aman dari invasi. Esoknya Andi mengembalikan buku-buku itu. Sekaang, andi berteman baik dengan Didi dan Igor, anak yang dulu sering menjahilinya, dan kesehariannya Andi berubah dari yang sebelumnya hanya duduk di perpus menjadi lebih berwarna karena teman barunya itu Didi dn Igor

TAMAT





KUCING


ketika suara azan magrib terdengar, saya tepat sampai di depan rumah. Menantikan saat – saat buka.
Bapak : Bulan Puasa, itulah saat saya merasakan nasi adalah nasi, pisang goreng benar-benar pisang goring, teh kental manis panas lebih indah dari rubayat-rubayat Umar Khayyam, dan kehidupan, betapa pun rewelnya adalah sebuah puisi.

Ketika di rumah.
Bapak : Saya baru ingat, istri dan anak saya ada janji berbuka di rumah saudaranya. Dan saya tidak melihat ada sesuatu di atas meja makan. (kecewa) Harusnya saya tidak usah buru-buru pulang. Makan saja di warung sate kambing muda di Cirendeu.
Dengan kesal saya lemparkan buku-buku ke atas meja. Saya kenakan kembali sepatu. Siap mengganyang bebek goring sendirian di PIM.
Tapi ketika mau menutup pintu, saya dengar ada suara kuncing mengeong. Dengan hati-hati saya kembali masuk rumah. Saya temukan kucing tetangga mengeong di dapur, seperti menunjukkan, “di situ, di situ”.
Bapak : Kamu mau apa, Cing ? (membuka almari)

Begitu daun almari terbuka, hidung Bapak diterjang bau ikan bakar reca-reca yang sedap sekali. Bapak lihat juga ada termos dan gelas kosong dengan bubuk teh tarik sasetan di dalamnya. Tinggal diseduh saja.
Kucing : Ngeong, (nyeletuk) seperti mengatakan. Nah ya kan?!
Bapak : Nikmatnya. (tendangan rasa teh berlipat ganda ditambah dengan musuh yang serasi: singkong) Oke, aku tidak jadi marah, mari kita nikmati hidup ini!

Setelah puas menyantap teh dan singkong, Bapak siap mengganyang ikan bakar reca-reca, untuk menghargai karya istri itu. Tapi begitu menoleh, Bapak terperanjat. Reca-reca itu sudah lenyap.
Bapak : Bangsat! (dengan emosi meluap - luap)
Kucing itu terkejut, dia caplok ikan itu untuk dibawa kabur. Tangan saya menyambar buku, lalu menembak, tepat mengenai badannya. Begitu geramnya, Bapak memukulnya. Kena. Lalu Bapak tendang dia ke halaman, piaraan tetangga itu ngibrit lari menyebrang jalan menuju ke rumah tuannya.
Pagi-pagi ada kejutan lagi. Pak RT berkunjung ngajak ngomong serius.
Pak RT : Saya kira pada bulan Ramadan ini, kita semua harus bisa menahan diri, Pak,
Bapak : Maksud Pak Haji?
Pak RT : Saya mendapat komplin dari Pak Michael, tetangga Bapak, Bapak sudah menzalimi mereka.
Bapak  : Menzalimi bagaimana?
Pak RT : Beliau terpaksa membawa kucingnya ke dokter, karena Bapak pukul. Apa betul?

Bapak  : O, ya, kalau itu betul
Pak RT : Maaf, Bapak mungkin tidak suka dengan kucing, tapi Pak Micahel itu lebih sayang pada kucing daripada anak-anaknya sendiri.

Bapak  : O begitu?

Pak RT: Ya. Jadi saya kira, Bapak mengerti kenapa beliau sangat shock oleh kejadian ini. Untung tidak perlu operasi. Tapi sekarang kucingnya pincang, Pak.

Bapak  : Masih untung hanya pincang, kucing itu mestinya harus mati karena makan reca-reca saya yang disiapkan untuk buka.

Pak RT: Namanya juga kucing, Pak. Makanya jangan meletakkan makanan terbuka di meja.

Bapak  : Dia curi dari almari!

Pak RT: Apa kucing bisa membuka almari, Pak?

Bapak  : Ya kebetulan pintunya saya lupa tutup.

Pak RT: Ya kalau pintu lupa ditutup, itu bukan salah kucingnya, Pak.

Bapak  : Salah siapa? Salah saya?

Pak RT: Kucing itu binatang, Pak, tidak bisa disalahkan. Kita yang memiliki kesadaran yang bersalah.

Bapak  : Wah itu tidak adil! Kalau ada pencuri mencuri barang saya, meskipun saya lupa mengunci almari, pencuri itu harus dihukum, karena perbuatan mencuri itu melanggar hukum!

Pak RT: Memang begitu, Pak.

Bapak  : Terus Pak RT mau nyuruh saya ngapain? Minta maaf sama Pak Michael karena saya sudah memukul kucingnya? Tidak! Terima kasih. Kalau disuruh membayar perawatan kucing itu ke dokter, saya bayar, tapi kalau minta maaf, sorry, itu bukan gaya saya, bukan salah saya kan?!

Pak RT: Memang itu maksud beliau.

Bapak  : Apa?

Pak RT: Beliau menuntut Bapak mengganti ongkos berobat kucingnya. (pak RT merogoh saku dan mengeluarkan kuitansi).

Bapak terperangah. Minta ampun. Jumlah yang ada di dalam kuitansi itu membuat istri saya ikut terbakar.

Istri      : Kami bukannya tidak punya duit Pak RT (kata istri saya yang memang cepat naik darah) tapi ini soal keadilan. Masa kami disuruh mengongkosi kucing ke dokter padahal binatang itu sudah mencuri reca-reca suami saya? Itu keterlaluan. Kalau perlu ke pengadilan, kita ramein di pengadilan sekarang supaya jelas! Kita ini masih negara hukum kan?!

Pak RT: Baiklah, demi menjaga ketenteraman kita bersama dan agar tidak merusakkan kekhusukan bulan Ramadan, saya carikan jalan tengahnya. Begini. Biarlah ongkos perawatan kucing itu, saya yang menanggung. Tapi izinkan saya untuk mengatakan kepada Pak Michael, semua itu dari Bapak. Jadi hubungan keluarga Pak Michael dan keluarga Bapak-Ibu di sini tetap terpelihara. Bagaimana kalau begitu?

Bapak  : Kenapa jadi begitu, Pak RT?

Pak RT: Ya sebagai RT saya merasa bertanggung jawab untuk mengusahakan perdamaian di antara warga.

Bapak dan istri bisik-bisik.

Bapak  : Kalau sampai pak RT yang bayar, rasanya kami malu juga (berbisik)

Istri      :Memang. Habis Pak RT terlalu baik sih. Seperti nabi saja (balas istri)

Istri      : Jadi kami bayar saja?

Bapak : Ya sudahlah, demi Pak RT, biar tidak berkepanjangan!

Akhirnya ongkos kucing itu ke dokter mereka bayar kontan. Jumlah yang cukup besar, tapi tak pernah Bapak sesali. Sebab sejak saat itu, kucing itu tidak pernah lagi berani masuk ke dalam rumah Bapak. Apalagi mencuri. Kalau lewat, dia terus saja berjalan lempeng, tak sudi atau tak berani menoleh. Kakinya yang pincang itu sudah membelajarkan dia untuk menghormati hak saya, sekali pun dia hanya binatang.

Bapak : Jadi kalau ada kucing lewat dekat rumah, tidak peduli kucing siapa. usir saja! (kata Bapak mengindoktrinasi anaknya yang baru berusia 5 tahun).

Anak    : Kenapa?

Bapak : Karena kalau dibiarkan, dia akan jadi maling! Paling tidak berak seenaknya. Kamu tahu sendiri kan, kotoran kucing itu bau, sulit hilang!

Anak    : Kalau nggak mau?

Bapak : Hajar dengan batu!

Anak    : Semua kucing?

Bapak : Tidak semua kucing jahat. Tapi kita tidak ada waktu untuk menyeleksi mana yang jahat mana yang bjaksana. Pukul rata saja, semuanya maling.

Anak    : Kenapa?

Bapak : Seperti kata George Washington, hanya senjata yang bisa dipakai untuk menjaga perdamaian.

Anak    : Kenapa?

Bapak : Karena hanya kekerasan yang akan bisa mencegah kekerasan. Biar pintu terbuka, almari lupa ditutup, kucing itu tidak akan berani lagi masuk, karena dia terpaksa menghormati kita. Dia pasti tidak akan mau lagi mengeluarkan Rp 200 ribu untuk mengobati kakinya yang satu lagi, karena Bapak akan mematahkan kakinya yang satu lagi.

Istri      : Jangan mengajari anak kamu kejam! (protes)

Bapak : Lho, hidup ini sudah kejam. kok. Kalau kita tidak ikut kejam, kita akan selalu jadi sasaran. Sebenarnya ini bukan kekejaman, tetapi ketegasan saja. Supaya tidak ada peluang orang lain untuk kejam terhadap kita, kita harus tegas. Kita tunjukkan kita bisa kejam!

Istri      : Itu kan teori kamu!

Bapak : Boleh dites, tapi itu berarti kita harus masak reca-reca lagi!

Istri bapak melengos tak menanggapi. Tapi dia perempuan yang baik. Sehari setelah Bapak sambat, ikan reca-reca itu sudah menanti di atas meja menjelang waktu – waktu buka.

Istri      : Lihat kucing itu sudah bengong di situ!” (menunjuk keluar jendela) Nggak bakalan ada kapoknya. Namanya juga binatang!

Bapak : (ngintip) itu jelas akting. Dia pasti sudah mengendus bau reca-reca yang sudah sempat membuat kakinya pincang.

Istri      : Tutup jendelanya, Pak!

Bapak : Tidak usah. Ini saatnya untuk melihat apa rumah kita ini masih dia hormati?!

Sebaliknya daun jendela Bapak kuakkan lebar-lebar. Pintu dibuka. Bapak berpura-pura tak menyadari kehadiran kucing itu. Ikan reca-reca itu Bapak pajang di atas meja di teras, tanpa ditutupi. Bapak ingin membuktikan, apakah kucing itu masih memiliki nyali.

Istri      : Aneh! Mau makan atau mau ngurus kucing makan?! (bentaknya kesal)

Bapak : Stttt! Lihat, aku sudah berhasil menghajar binatang itu bagaimana menghormati teritorial kita!

Istri      : Ntar ikannya disambar lagi, baru nyesel!

Bapak : Nggak bakalan!

Istri      : Namanya juga kucing!

Bapak : Tidak mungkin! Kakinya yang pincang itu, sudah membuat dia ngeper sendiri!

Tapi tiba-tiba si Anak yang kecil muncul dari samping.
Anak    : Kucing nakal! (membawa batu mau melempar kucing itu, sesuai dengan yang Bapak ajarkan)

Kucing itu cepat berbalik. Ternyata dia tidak takut. Kakinya yang cidera seperti mendadak sembuh. Dan kucing itu menerjang si Anak.

Istri      : Pak! (teriaknya)

Belum sempat berteriak, kucing itu sudah kaget melihat muka Bapak yang nongol di jendela. Dia kontan membatalkan serangannya, lalu melompat ke jalan dan kabur. Tapi sebuah mobil yang meluncur cepat menerima lompatannya. Kucing itu tergilas.

Esoknya, seperti yang sudah diduga, Pak RT muncul. Saya lebih dulu menegor.

Bapak : Bulan Ramadan tidak boleh mengumbar emosi kan Pak RT?

Pak RT : (tersenyum seperti kena sindir) betul, Pak. Tapi kalau terpaksa apa boleh buat.

Bapak : Lho boleh?

Pak RT : Habis kalau nyolong melulu?!

Bapak : (Saya tertegun) siapa Pak RT?

Pak RT : Siapa lagi! Almarhum!

Bapak : Almahum siapa?

Pak RT : Kucing yang Bapak bunuh itu. (tersenyum)

Bapak : (tertegun) saya tidak membunuh kucing itu! Kan yang punya sendiri yang menggilasnya!

Pak RT : Ya untungnya begitu. Tapi sebenarnya dia sudah mati sejak Bapak mematahkan kakinya.

Bapak : …………...

Pak RT : Sejak kakinya patah, kucing itu tidak berani lagi sembarangan masuk ke rumah. Bukan hanya rumah Bapak, juga rumah saya dan rumah-rumah yang lain. Dan sejak itu pula, tak ada yang pernah kehilangan ayam atau makanan lain dari meja secara misterius. Rupanya selama ini kucing itu biang keroknya.
Sekarang kita aman…

Bapak : O ya?

Pak RT : (senyum lagi)Ya.

Bapak : Kalau begitu bagus dong.

Pak RT : Bagus.

Bapak : Jadi kita aman sekarang. Tidak ada aman, tidak ada tai kucing?

Pak RT : Ya. Untuk sementara.

Bapak : Sementara?

Pak RT : Untuk sementara.

Bapak : Kenapa?

Pak RT : Sebab Pak Michael sudah membeli tiga ekor kucing lagi untuk mengganti kesayangan istrinya itu. Habis istrinya nangis terus kehilangan kucingnya.

Bapak : (terhenyak) berarti kita harus melakukan pembunuhan lagi?

Pak RT : (tertawa) tidak usah. Cukup biasakan mengunci pintu dan almari dapur.

Bapak : Dan mematahkan kakinya pada kesempatan pertama dia mencuri?!

Pak RT : Betul!

Bapak : Sebab kalau dibiarkan atau dimaafkan, dia pasti akan mengulang dan lama-lama jadi penyakit!

Pak RT : Betul.

Bapak : (tertawa) kalau begitu kita cs Pak RT.

Bapak mengulurkan tangan. Lalu mereka berjabatan.

Pak RT : O ya, saya lupa, (sambil merogoh kantungnya lalu mengulurkan selembar kuitansi).

Bapak : (Darah saya tersirap) apa ini?

Pak RT : Menurut Pak Michael yang membunuh kucingnya itu, Bapak. Bapak diminta dengan sangat mau mengganti pembelian ketiga kucing yang baru dibelinya itu.”

Pak RT lalu begitu saja meninggalkan saya. Seakan-akan tidak ada sama sekali keanehan dalam peristiwa itu. Saya bingung. Tiba-tiba saya jadi pembunuh yang harus dihukum. Mana jiwa nabi serta kebesaran Pak RT yang dulu kelihatan begitu tebal untuk menjaga kesejahteraan warga. Kenapa saya dianggap pantas menerima pemutarbalikkan yang kacau itu.

Manusia dan binatang sama saja, teriak saya dalam hati. Lalu saya kejar Pak RT ke rumahnya. Saya ulurkan kuitansi itu ke mukanya. Supaya ia menatap dengan baik, bukan jumlah yang tertera di sana yang membuat saya mabok, tetapi maknanya. Hakikatnya. Dan tanpa bicara sepatah kata pun, saya sobek kuitansi itu di depan matanya. Perlahan-lahan menjadi potongan-potongan kecil.

~TAMAT~

Catatan : dikonversi dari cerpen dengan judul yang sama. http://imamzainudin.blogspot.com/2014/06/cerpen-karya-putu-wijaya-kucing.html